Recent Posts
RSS Feeds

-Award-

Rabu, 14 Maret 2012

Cerpenku By Abdul Jabbar Fathoni




                                                    


“Cinta Bersemi di Angkutan Kota”
Setengah komedi

Suatu hari, di kawasan kos-kosan sederhana di Kota Purwodadi ada seorang lelaki yang bernama Edo Purwodo, ia adalah seorang mahasiswa baru “MASUK” di Universitas Tiga Oktober, yaitu sebuah universitas yang ternama di tempatnya, karena alumni dari universitas tersebut rata-rata menjadi orang yang sangat sukses, walaupun tak sedikit yang tak beres. Edo adalah seseorang yang sangat baik, dan lagi dia adalah seorang lelaki yang sangat tampan, sehingga banyak wanita yang suka padanya, walau tak sedikit pula yang membencinya karena sikapnya yang suka mengabaikan perkataan orang, karna sering melamun.
Di suatu pagi, di dalam angkutan kota, Edo bertemu lagi dengan dambaan hatinya yang sudah lama ia sukai, namun Edo belum memiliki keberanian untuk mendekati wanita tersebut. Dia perlahan melirik kepada gadis dambaannya yang bernama Elisa Geulisa. Elisa adalah wanita pendiam berparas cantik, banyak lelaki yang suka padanya, dan bisa dibilang hampir semua lelaki di universitasnya suka kepadanya, karena walaupun dia seorang yang pendiam, dan pemalu, yaitu dia suka malu-maluin paku gitu, ya akan tetapi dia sangat baik terhadap semua orang.
Edo sudah lama ingin berkenalan dengan Elisa, akan tetapi karena berbeda fakultas, dan lagi Elisa adalah orang yang pendiam, yang membuat Edo malu untuk berkenalan dengannya. Edo duduk di semester 1 fakultas seni, sedangkan Elisa duduk di semester 1 fakultas kedokteran. Di fakultasnya, Edo duduk berdampingan dengan seorang wanita yang bernama Alina Dian Sekar Ayu Ningsih, seorang wanita yang juga berparas cantik dan baik, walaupun tak secantik Elisa, akan tetapi Alina adalah wanita yang pandai bergaul, dan sangat nyaman untuk diajak berbicara dan bersenda gurau. Ketika itu Alina sedang mengajak Edo berkenalan. “Hai kawan, namaku Alina, namamu siapa?”, ujar Alina dengan nada semangat menggelora. Sewaktu di sapa pertama kali, Edo hanya terdiam tanpa menghiraukan sapaan dari Alina, yah maklum orang yang sedang galau memikirkan cinta, siapapun yang menyapanya, walau “PRESIDEN” sekalipun, akan dianggap cuitan burung belaka. Akan tetapi, tak hentinya pula Alina menyapanya, karena rupanya Alina paham dengan apa yang sedang dirasakan oleh Edo. “Hello? Siapa disini? Kok tadi kusapa enggak ngejawab sih? Kamu enggak tuli kan? Kalau enggak tuli, jawab donk!”, sapa Alina untuk yang kedua kalinya, namun nampaknya Edo masih termenung akan lamunannya tersebut, mungkin pikirannya sedang terbang ke galaksi yang teramat jauh karena kata bang H. Rhoma Irama, ia sedang dilanda mabuk janda, alias mabuk cinta. Dan Alina masih belum jera juga, karena pikirnya jika sesuatu hal belum dilakukan sebanyak 3 kali enggak afdol rasanya. “Hello kawan, lagi ngapain sih? Dari tadi enggak ngejawab sapaanku?”, sapa Alina untuk yang ketiga kalinya, dan kali ini pun Edo masih tak menghiraukan Alina, karena kesal Alina pun berteriak di telinga Edo, untuk membebaskannya dari pengaruh Setan Lamun. “WOOOOOYYYYY!!!!!”, teriak Alina di dekat telinga Edo, “Hah? Ada apa? Apa yang hilang?”, jawab Edo sambil terkaget, karena sangat kagetnya sampai jawabannya enggak karuan nyambungnya kemana. “Hilang, hilang, telingamu tuh yang hilang, dari tadi aku sapa enggak ngejawab-jawab.”, jawab Alina dengan nada kesal. “Hha, maaf deh, maklumlah remaja yang sedang termenung, jadi enggak ngedenger sapaan orang!”, jawab Edo dengan santainya. “Kalau cuman enggak jawab sekali mah “Enggak apa”, tapi kalau udah enggak ngejawab tiga kali sih namanya “Enggak ada telinganya”, atau Tuli!”, jawab Alina yang sudah mulai kesal kepada Edo. “Haha, sabar mba, iya deh maaf, tadi mau ngapain nyapa aku?”, jawab Edo meminta maaf kepada Alina atas perbuatannya tersebut. “Mau nagih utang! Pake nanya lagi! Hmm, ya sudahlah, aku maafin kamu untuk kali ini, tapi untuk kedepannya, bakalan “MATI” kamu! Aku cuman mau kenalan kok. Namaku Alina Dian Sekar Ayu Ningsih yang suka bersih-bersih dengan giat nan gigih. Kalau kamu siapa?”, jawab Alina dengan sedikit bercanda. “Busyet dah, namanya panjang, sepanjang gerbong Kereta Api. Kalau aku, nama ku cukup singkat kok seperti pemikiranku yang juga singkat, Edo Purwodo atau bisa dipanggil Edo.”, jawab Edo dengan sedikit bercanda. “Hha, bisa aja kamu, tadi cuman bercanda kok, namaku hanya “Alina Dian Sekar Ayu Ningsih”, atau bisa dipanggil Alina.”, jawab Alina. Dan mereka pun berjabat tangan setelah berkenalan. “Alina, ku boleh nanya sesuatu enggak ke kamu? Tentang cewe nih, namanya Elisa Geulisa. Anak fakultas kedokteran di Universitas Tiga Oktober juga. Kamu kenal enggak?”, tanya Edo kepada teman disebelahnya tersebut. “Hmm, kenal kok, dia temen sebangkuku sewaktu SMA dulu, katanya dia sekarang lagi tertarik sama seorang cowo yang tampan loh. Aku punya nomornya, nanti aku mau ngajak dia nyemil bareng di kantin, mau ikut?”, jawab Alina. “Nggak apa-apa nih?”, tanya Edo. “Ah, enggak apa-apa kok, semakin banyak orangnya, semakin rame kok, dia pasti ngerti.”, jawab Alina sembari tersenyum kepada Edo. “Oke deh, makasih ya Alina.”, ujar Edo. “Oke deh.”, jawab Alina.
Sesampainya di kantin Universitas Tiga Oktober, “Elisa, perkenalkan, ini teman ku, namanya Edo Purwodo atau biasa dipanggil Edo, dia teman satu fakultas denganku.”, ujar Alina sembari mengenalkan Edo pada Elisa. “Ou, ya, salam kenal ya, Edo.”, ujar Elisa sembari berjabat tangan dengan Edo seraya menundukkan kepala, bukan karena malu dengan Edo, tapi rupanya uang seratus bukan seratus ribu, tapi seratus rupiah punyanya jatuh, jadi dia segera mengambilnya. “Ya, Elisa, senang bertemu denganmu!”, jawab Edo. Setelah mereka berlama-lama nyemil dikantin seraya bersenda gurau, dan sepertinya Elisa pun sudah mulai tidak enggan lagi untuk berbicara dengan Edo. Lalu mereka pun kembali ke fakultas masing-masing. Lalu Edo pun kembali bertanya kepada Alina untuk meminta nomor Elisa. “Alina, aku minta nomornya Elisa donk, aku pingin lebih dekat lagi nih dengan Elisa.”, pinta Edo kepada Alina. “Oke deh, nhi nomornya!”, Alina pun mengiyakan permintaan Edo dan segera memberikan nomor Elisa. “Makasih banyak ya Alina, atas pertolonganmu sama aku, kamu baik banget deh.”, ujar Edo berterima kasih sambil sedikit merayu Alina. “Ah, Biasa aja kali!”, jawab Alina. “Eh, kira-kira kalau aku nembak Elisa, diterima enggak ya???”, tanya Edo kepada Alina. “Kalau kamu yang nembak  sih, menurutku dia oke aja. Secara, kamu kan Edo Purwodo, orang ganteng, dan yang paling baik sekos-kosan di Purwodadi”, jawab Alina. “Haha, oke deh, makasih ya Alina!”, sekali lagi Edo berterima kasih atas bantuan Alina dan atas pendapat Alina tersebut. “Sama-sama. Senang bisa membantu.”, jawab Alina sembari senyum kepada Edo. Setelah mereka berbicara panjang lebar lewat tulisan, tanpa menghiraukan sang dosen yang sedang menjelaskan mata kuliah kesenian, mereka pun kembali menyimak pelajaran dari dosen tersebut, akan tetapi, sepertinya tidak direstui, karena baru saja mereka ingin menyimak, rupanya waktu mata kuliah sudah habis, dan sang dosen pun bergegas pergi dari ruangan tersebut. Namanya juga dosen, ada yang tak peduli dengan anak bimbingannya. Kiranya Edo dan Alina pun saling bertatap muka seraya tertawa atas perbuatan mereka yang tidak menghiraukan dosen yang berakibat buruk bagi mereka sendiri, dan mereka pun segera pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing.
Sesampai dikosannya, Edo segera SMS ke nomor Elisa.
“Elisa, ini aku Edo, aku sebenarnya sudah lama mendambakanmu, tapi aku malu untuk menyampaikannya ke kamu, maaf jika ini terlalu tergesa-gesa, tapi aku rasa, sudah saatnya aku mengungkapkannya. Kamu mau enggak jadi pacarku?”
Setelah lama menunggu balasan dari Elisa, sekitar satu “JAM”-an, bukan satu Jaman, akhirnya SMS Edo pun ada hasilnya juga, walau sempat dia untuk tidur terlebih dahulu sembari menungggu balasan SMS dari Elisa, dan Edo pun segera membaca SMSnya, dan dia menangis setelah membaca balasan tersebut. Ada apakah gerangan? Kita baca saja lanjutan ceritanya!!!
Keesokan harinya, saat  jam istirahat, di kantin Universitas Tiga Oktober, Elisa pun bercerita kepada Alina, saat itu kebetulan Edo sedang tidak ikut nyemil bersama mereka, karena sedang dilanda kantong kering. “Alina, Edo menyatakan cintanya ke aku.”, ujar Elisa. “Hah, lalu bagaimana? Apa jawabanmu?”, tanya Alina. “Kamu masih ingat tidak tentang cowok tampan yang sudah lama kusukai itu?”, tanya Elisa. “Masih donk, kenapa emangnya Elisa?”, jawab Alina. “Ya itulah dia cowok tampan yang sudah lama kusukai itu, ya si Edo itu, dan ku jawab iya ke Edo.”, ujar Elisa dengan mimik muka yang amat teramat senang, akan tetapi seraya menundukkan kepala, dan kali ini bukan karena uang seratus rupiah, tapi lima ratus rupiah kepunyaannya jatuh, jadi dia ambil dan dia masukkan ke perutnya dengan membelanjakan tiga bungkus permen Mizz, permen produk Universitas Tiga Oktober yang memiliki slogan “Daripada ngemizz, mending makan permen Mizz, permen enek, permen enek.” “Ou, syukur lah, selamat ya!”, ujar Alina. “Iya, makasih banyak ya Alina, sudah mau mengenalkan aku kepada Edo, kalau bukan karenamu, pastilah kami tak akan pernah berkenalan, dan enggak akan pernah jadian seperti sekarang ini.”, jawab Elisa dengan nada yang sangat bersemangat karena sangat senangnya dia saat itu sudah dapat membeli permen Mizz, walaupun sempat muntah sekali, tapi berturut-turut. Dan rupanya Edo menangis setelah membaca balasan dari SMSnya, bukan karena ditolak, tapi, dia menangis terharu karena sangat senangnya hati dia saat itu.Begini lah rupanya bunyi balasan dari Elisa.
”Iya Edo, aku juga sudah lama mendambakanmu, sejak kita bertemu di Angkot kemarin. Aku sangat senang banget kamu nembak aku, walaupun sangat tergesa-gesa, seperti angkot yang sedang melaju begitu cepatnya. Tapi, makasih banyak ya Edo, sudah berani menyatakan cintamu ke aku. Aku mau banget kok untuk jadi pacarmu!”
Setelah resmi berpacaran, akhirnya mereka pun selalu pergi kuliah berdua, walau masih memakai angkutan kota, selalu nyemil dikantin walau masih dengan Alina, dan pulang ke tempat tinggal masing-masing pun berdua, walau masih memakai angkutan kota juga untuk pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing. Dan pada akhirnya mereka berdua pun hidup bahagia bersama hingga menikah dan memiliki anak 2 orang, 1 cowo, dan 1 cewe. Karena mereka mengikuti program KB yang mempunyai Slogan “Dua Anak Lebih Baik!”. Dan kini Edo telah berhasil menjadi pelukis yang amat terkenal se-“DUNIA” Indonesia, dengan lukisan terlarisnya yaitu “NonaLisa”, yaitu lukisannya tentang Elisa yang memiliki paras yang cantik walau hanya tersirat dalam lukisan abstraknya si Edo, akhirnya Edo pun mendapatkan gelar “Leonar Edo Davinci” atas prestasinya tersebut, dan berkat lukisannya dia masuk Guiness Book Of Record, karena telah berhasil meniru lukisan Leonardo Davinci yaitu “MonaLisa”, hanya saja dalam lukisannya kali ini si cewek mengenakan mengenakan pakaian muslimah, dan kali ini Elisa yang jadi objek lukisan abstraknya tersebut. Dan Elisa pun telah berhasil menjadi dokter bedah spesialis hewan yang juga amat terkenal sangat hebat menangani hewan yang dioperasi, walaupun tak sedikit hewan yang gagal dia operasi, dan namanya sekarang adalah “Dr. Elisa Geulisa, Bdh.sh.”.



 


                                             Tamat
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
“Bilamana banyak kesamaan pada nama tokoh, tempat dan kesamaan cerita, mohon dimaklumi saja, karena ini hanyalah 100% fakta tentang fiktif. Dan maaf bilamana menyinggung Anda, karena ini hanyalah cerita yang sedikit berisikan komedi yang enggak jelas-jelas banget. Yah, maklumi saja lah, karena cerpen ini hanya dibuat oleh seorang remaja kelas X yang mencoba untuk berkarya di bidang sastra, walau hasilnya enggak bagus-bagus amat, dan semoga cerpen yang hanya dibuat dalam satu hari tapi dieditnya udah berkali-kali ini bisa bermanfaat bagi Anda. Hanya  ucapan terima kasih yang dapat penulis berikan karena Anda sudah mau membaca cerpen ini.”
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.